KONDOM ATAU PIL KB, DAN SEKS

Mau DOWNLOAD tulisan ini lengkap dengan ayat AL-QURAN dan AL-HADITS nya, silahkan klik tulisan merah ini

KONDOM ATAU PIL KB, DAN SEKS

Solusi “SEKS BEBAS” adalah dengan mengajak dan menganjurkan penggunaan kondom atau pil KB saat melakukan seks bebas atau seks dengan pacar (ZINA).
Kampanye pemakaian kondom atau pil KB (save sex) terhadap remaja dan para pecandu seks tidak lain hanyalah upaya pelegalan seks bebas. Dengan memakai kondom atau pil KB, seolah ingin dikatakan “Jangan takut melakukan free sex”. Tidak perlu nikah dulu untuk bisa melakukan seks. Tidak perlu takut kena penyakit kelamin atau HIV/AIDS. “Kan sudah pake kondom atau pil KB.” Yang cowok jadi merasa tenang dan damai melakukan seks bebas karena selain slogan save sex tadi dan cewek jadi merasa tenang dan damai melakukan seks bebas karena selain slogan save sex tadi , mereka juga tidak takut pacarnya akan hamil di luar nikah. . Sedangkan bagi yang cewek juga sama saja. Cowok: “saya sudah pakai kondom 2 lapis”. Cewek: “saya sudah minum pil KB” Koor kegirangan “Aaaman dong”. Kondom atau pil KB menjadi alat pembenar untuk melakukan seks dengan pacar karena resiko hamil jadi kecil. Begitu pula seks bebas berganti pasangan jadi bebas karena resiko tertular penyakit kelamin semakin kecil. Yang terjadi adalah rusaknya generasi baik-baik menjadi sekumpulan generasi hobi berzina di masyakarat. Naudzubillah Min Zalik.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku zina ini dalam kehidupan masyarakat sangatlah besar. Perzinaan adalah kejahatan yang sangat besar dalam Islam. Hukuman bagi pelaku zina adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun bagi pelaku yang belum pernah menikah, namun bagi pelaku yang sudah pernah menikah (muhshon) maka hukumannya dicambuk 100 kali dan dirajam.
Di dalam negara kita yang dihuni oleh mayoritas muslim ini seharusnya kejahatan ini paling tidak disejajarkan dengan tindak kriminal lainnya. Ini adalah soal penjagaan generasi yang akan memimpin bangsa ini ke depan. Jika saat ini moral mereka sudah rusak maka kejahatan lainpun akan mudah mereka lakukan. Perilaku mereka tak harusnya “dipelihara” dengan solusi yang parsial dan setengah-setengah. Selama ini kita melihat upaya terbesar adalah mengurangi dampak dari perilaku ini, salah satunya adalah dengan kampanye kondom atau pil KB itu. Jadi, pelaku kejahatan ini dibuatkan alat kondom atau pil KB sebagai solusi dan dikampanyekan kepada mereka untuk menggunakan alat tersebut agar dampak kejahatan yang mereka lakukan tidak terlalu besar!
Harusnya perhatian kita terpusat pada pencegahan yang lebih menyeluruh. Bagaimana agar perzinaan itu tidak merebak di tengah masyarakat. Sebagaimana Islam dengan prinsip saddud dzariah (menutup celah)-nya telah mengajarkan kita untuk tidak mendekati zina. Bahkan seorang muslim dituntut untuk menghindari jalan-jalan yang mengarahkan ke perbuatan keji tersebut, seperti kewajiban untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, tidak ber-khalwat (berdua-duaan) dengan wanita bukan mahram, ikhtilat (bercampur baur) dalam pergaulan, tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram, kewajiban menutup aurat, dilarangnya memakai parfum bagi wanita jika keluar rumah, dilarangnya safar tanpa mahram bagi wanita, dianjurkan berpuasa bagi pemuda yang belum mampu menikah, dan bagi laki-laki untuk mendatangi istrinya jika timbul syahwat dalam dirinya, seorang istri harus segera memenuhi ‘ajakan’ suami selama tidak melanggar batasan syariat dan masih banyak lagi aturan dalam Islam yang menutup rapat-rapat jalan menuju perzinaan.
Setidaknya ada beberapa cara yang harusnya dilakukan dan dikampanyekan untuk mengikis seks bebas dan segala dampak yang ditimbulkan seperti HIV/AIDS, kehamilan di luar nikah dan aborsi:
Pertama: Pendidikan Agama yang Intensif
Surat 4 AN NISAA’

Surat 17 AL ISRAA’

Surat 24 AN NUUR
Jauhnya dari ajaran agama adalah pangkal dari kemaksiatan. Remaja-remaja muslim seharusnya diarahkan untuk giat mempelajari ilmu-ilmu agama yang berasal dari al-Qur’an dan sunnah. Dengan mengenal agama dengan baik maka keinginan untuk melakukan perbuatan yang dilarang (ZINA) oleh agama dapat diredam.
Manusia adalah makhluk yang lemah terhadap syahwatnya, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) :
“Allah hendak memberikan keringanan bagi kalian dan manusia itu diciptakan dalam kondisi lemah.” (QS. An-Nisa: 28).

Ayat ini merupakan pesan pungkasan setelah Allah menjelaskan tentang beberapa aturan nikah dari ayat 19- 28 di surat An-Nisa. Oleh karena itu, para ahli tafsir menegaskan, yang dimaksud lemah dalam ayat tersebut adalah lemah dalam urusan syahwat, lemah dalam urusan wanita. Laki-laki begitu mudah hilang akal dan sangat mudah tergoda dengan wanita. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2:267)
Hanya dengan keimanan yang kuat syahwat yang menggoda itu bisa dikalahkan. Keimanan hanya dapat disuburkan dengan ilmu agama dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Maka sudah sepatutnya kegiatan-kegiatan menuntut ilmu agama yang dilakukan oleh remaja muslim didukung dengan baik.
Kedua: Pendampingan Orang Tua
Orang tua memegang peranan penting dalam mendidik anaknya. Meski anaknya telah dimasukkan dalam sekolah namun pengawasan terhadap anak tetap menjadi kewajiban orang tua, bukan pihak sekolah. Bagaimana pun sibuknya dalam mencari nafkah, orang tua yang baik akan tetap meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada anaknya. Membantu mereka dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Mengarahkan mereka dalam pergaulan yang baik dan kegiatan-kegiatan yang positif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya cenderung mencari perhatian yang lebih di luar rumah. Mereka lebih percaya kepada temannya daripada kedua orang tuanya. Anak dalam kondisi seperti ini rentan untuk salah pergaulan, apalagi jika mereka mendapatkan teman yang buruk.
Anak adalah amanah dari Allah bagi orang tua, tidak sepatutnya ia disia-siakan dengan bermasa bodoh terhadap pendidikan dan masa depan anak. Selama ini kita sering mendengar tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Namun para orang tua seharusnya berhati-hati, jangan sampai mereka juga termasuk orang tua durhaka kepada anaknya, karena lalai dari amanah yang telah diberikan kepadanya.
Ketiga: Menutup tempat-tempat Maksiat
Tempat-tempat maksiat seperti lokalisasi pelacuran atau rumah bordil sudah seharusnya ditutup oleh pemerintah. Pembiaran tempat tersebut sangat paradoks (bertentangan) dengan program pemerintah untuk mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS dan penyakit lain yang diakibatkan oleh seks bebas. Ibarat ingin membasmi hama namun sumber hama malah dilokalisir, dipelihara, dijaga bahkan mengambil keuntungan dari situ.
Kita berharap ada suara dari Menteri Kesehatan jika memang peduli dengan penyebaran HIV/Aids untuk kampanye penutupan tempat-tempat pelacuran di seluruh Indonesia.
Keempat: Memudahkan pernikahan
Menikah adalah salah satu cara yang efektif dalam menutup pintu zina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)
Menikah dapat menundukkan pandangan pemuda dan mengurangi gejolak hasratnya serta memelihara kesuciannya. Menikah juga melapangkan rezeki, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Ada tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah. Yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang budak yang hendak menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Ahmad)
Sayangnya, sekarang ini kebanyakan orang terdoktrin dengan pikiran bahwa menikah akan menghambat karir, menikah baru bisa ketika kehidupan sudah mapan, membuat langkah mereka surut dan takut untuk menikah. Keyakinan mereka terhadap janji yang telah Allah Ta’ala Firmankan dan Rasulullah janjikan pun memudar. Belum lagi kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi ledakan penduduk sedikit banyak mempengaruhi pemuda agar tidak menikah di usia muda.
Selain itu menikah pun dipersulit dengan mahalnya biaya pernikahan sebagaimana adat di beberapa daerah. Padahal dalam Islam, menikah hendaknya dipermudah.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Jadi yang menjadi tolok ukur adalah agama dan akhlaknya, bukan berapa besar uang belanja untuk resepsi pernikahan.
Penutup
Kampanye pemakaian kondom atau pil KB sejatinya bukanlah solusi yang tepat untuk menghindari dampak buruk seks bebas. Bahkan justru sebaliknya, kampanye ini akan menjadi peluang besar bagi pecandu syahwat untuk semakin bebas dalam menyalurkan syahwatnya. Dalam semua permasalahan, Islam telah memberikan solusi total dan menyeluruh. Kitapun harus mengakui bahwa betapa sempurnanya aturan Allah Ta’ala dan betapa lemahnya aturan manusia yang terbatas akal pikirannya. Wallahu Musta’an.
Oleh: Alfian H. Nurdin H. Abdul Gafar (Hammer City) = PAPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s